Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya

Tiap satu Muharam datang, suasana hati kita tiba-tiba berubah kayak plot twist sinetron menjelang adzan Maghrib. Langit jadi sendu, hujan turun diam-diam padahal BMKG udah janji cerah. Hati mulai lirih tanya: “Tahun ini gue udah jadi manusia sungguhan, belum? Atau masih homo gadgetensis yang hidup buat scrolling dan notif doang?” Di kampung, toa masjid mulai nyetel suara bapak-bapak yang grogi baca doa akhir tahun—kadang ayatnya muter, kadang malah jadi remix doa qunut. Tapi aneh ya, walau grogi dan kadang sumbang, tetap aja hati ikut getar. Kenapa bisa gitu? Mungkin karena satu Muharam itu kayak notifikasi dari langit: “Kamu belum berubah ya, Dek?” Dan kita cuma bisa senyum kecut, nyalain obor, upload story pakai filter aesthetic, sambil dalam hati berdoa semoga semua ritual ini bisa menghapus dosa nonton drakor pas adzan Subuh. Tapi pertanyaannya: kita ini sedang ibadah, atau cosplay jadi alim?
Lucunya, banyak dari kita ikut semua ritual Muharam, tapi hatinya kayak sinyal HP: kadang ada, kadang hilang. Di balik bubur syuro yang maknanya dalem, susu putih yang katanya lambang fitrah, dan pawai obor yang seru-seruan satu RT, kita kadang lupa—semua itu bukan cuma simbol, tapi panggilan untuk pulang. Pulang ke diri kita yang fitrah. Pulang ke Allah. Tapi kita beneran pulang, atau cuma numpang lewat demi feed Instagram? Bahkan kalaupun kita belum sepenuhnya berubah, bukankah lucu dan luar biasa kalau malaikat melihat kita nyoba—meski masih canggung—sambil setan di pojokan mulai gelisah dan bisik, “Lah, ini manusia beneran niat tobat, nih?”
Lalu, di tengah semua kesibukan menyambut tahun baru Hijriah: dari doa akhir tahun sampai dzikir bareng, pernah nggak kita tanya ke hati sendiri—”Gue ngelakuin ini semua karena cinta sama Allah, atau karena takut nggak diajak arak-arakan?” Allah sendiri udah ngasih reminder sejak langit dan bumi diciptakan, bahwa ada empat bulan haram—dan Muharam salah satunya.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
(Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.)
(QS. At-Taubah: 36)
Jadi, pertanyaannya sekarang: kita mau memulai tahun baru dengan hati yang haram dari dosa, atau malah dengan niat yang haram dari kesungguhan?
Kalau Tahun Baru Masehi dirayakan dengan suara terompet dan kembang api kayak konser boyband yang kehabisan jadwal, maka Tahun Baru Hijriah datang diam-diam… bawa doa, bubur, dan obor. Romantis banget, kan? Di mana lagi kita bisa lihat anak kecil lari-larian bawa api sambil senyum—tanpa takut disuruh padam sama Damkar? Kadang ada pawai obor yang rutenya kayak game ular tangga, muter ke gang buntu, balik lagi ke lapangan. Tapi herannya, semua tetap ikut. Kenapa ya? Mungkin karena di tengah hidup yang makin absurd—dari berita politik yang bikin pusing sampai harga cabai yang bikin nangis—kita semua haus simbol. Haus arah. Haus alasan buat bilang ke diri sendiri: “Aku masih nyambung sama Tuhan, kok. Beneran.” Tapi, benarkah kita haus arah… atau cuma haus like di Instagram?
Lucunya, malam satu Muharam itu seperti malam sakral bagi netizen muslim semi-taat. Yang biasanya posting video masak Indomie, tiba-tiba upload foto langit gelap sambil caption, “Bismillah awal tahun.” Padahal typo: “Bismillag rahman rochim.” Tapi ya sudah, namanya juga usaha. Dunia digital memang bikin semua serba buru-buru. Kita dikejar notifikasi, diuber trending topic, dan tenggelam dalam scroll-scroll tak berkesudahan. Tapi hati tetap butuh jeda. Perlu satu malam untuk bilang, “Ya Allah… tahun lalu aku lebih sering nge-like reels random daripada nge-like ayat-ayat-Mu.” Tapi pertanyaannya: niat berubah itu beneran dari hati, atau cuma ikutan tren?
Rasulullah ﷺ sudah ngasih kunci utamanya:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907)
Hadits ini tuh kayak reminder cinta yang bilang: “Yang penting itu kamu niat dulu.” Jadi, meskipun malam Muharam kamu cuma baca doa sambil ngaduk bubur dan dengerin toa sember, asal niatmu tulus, tetap ada nilainya. Tapi ya itu tadi—niatnya beneran buat Allah, atau biar diliat rajin sama mantan yang masih mantau story?

Doa akhir tahun tuh, kalau dipikir-pikir, mirip tombol “clear history” di browser kehidupan kita. Bedanya, yang ini bukan buat hapus jejak stalking mantan atau obrolan gelap jam 2 pagi, tapi buat ngapus dosa—dosa yang kadang kita lupa pernah dilakuin, tapi malaikat udah tandain pakai stabilo. Tapi coba jujur deh, emang berapa banyak dari kita yang baca doa akhir tahun sambil khusyuk? Kenyataannya, banyak yang baca sambil nyuapin anak, ngaduk kuah bakso, atau sambil nunggu doorprize masjid yang hadiahnya setrika (yang entah kenapa jadi rebutan sejuta umat). Jadi, yang tadinya mau bilang, “Ya Allah, ampunilah aku,” malah berubah jadi, “Ya Allah, semoga dapet nomor undian 13.” Lah, ini niat tobat atau undian?
Tapi, hei… meskipun dibaca sambil rebahan, atau sambil nginget cicilan yang belum lunas, selama hatinya pasrah, itu tetap mulia. Kadang kita mikir, “Ah, doa gua belepotan, hafalan juga kacau, Tuhan denger gak ya?” Eh, padahal justru doa dari orang yang gak hafal, tapi hatinya lumer kayak mentega kena wajan panas—itu justru yang cepat nyampe ke langit. Kenapa? Karena Allah bukan admin customer service yang lihat tata bahasa, tapi Dia melihat kedalaman hati. Pertanyaannya sekarang: Kalau Tuhan udah janji bakal dengerin, kenapa kita masih malu-malu megang mic doa?
Allah udah kasih janji manis, tapi bukan PHP.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.'”
(QS. Ghafir: 60)
Ayat ini bukan sekadar motivasi, tapi undangan VIP dari langit. Jadi jangan tunggu sinyal kuat atau tempat cozy buat doa—karena justru momen-momen absurd seperti di atas motor, di dapur, atau sambil nyuci piring itulah tempat paling jujur buat bilang: “Ya Allah, tahun kemarin aku kacau. Tahun ini, boleh gak aku coba jadi lebih baik?”
Setelah merenung khusyuk sambil bersin—karena baca doa di bawah kipas angin level tornado—tibalah momen sakral: doa awal tahun. Ini momen serius yang sering dibacakan dengan suara lembut dan alis mengkerut, padahal di dalam hati lagi nyicil kekhawatiran, “Tahun ini gue masih bisa bayar langganan Netflix gak, ya?” Saat kita bilang, “Ya Allah, jadikan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” jangan-jangan Allah senyum sambil nyeletuk, “Tapi kamu masih nyimpan resolusi tahun 2021 di file Word yang belum dibuka lagi sampai sekarang.” Ya gimana, resolusinya mulia sih: lebih rajin ngaji, lebih disiplin, lebih sabar. Tapi ending-nya lebih rajin checkout keranjang, lebih disiplin nonton drakor, dan lebih sabar nunggu cashback.
Tapi tenang, langit itu tidak pakai kalkulator prestasi. Doa awal tahun bukan lomba proposal hidup sempurna. Bahkan kalau doanya cuma, “Ya Allah, tahun ini jangan zonk,” itu pun sah, dan insya Allah tetap nyampe. Karena Tuhan itu Maha Paham: hati manusia itu rumit, kadang pagi minta jodoh, sore minta sendiri dulu, malemnya nangis nonton wedding orang. Tapi di balik doa-doa yang terdengar absurd, ada harapan yang tulus: pengen jadi manusia yang lebih berguna, lebih damai, lebih waras, dan syukur-syukur bisa nabung buat umrah, bukan buat beli skincare lagi-lagi. Lantas, kalau kita masih bisa berharap walau hidup sering nyeleneh, kenapa mesti malu untuk terus berdoa?
Kata Imam Al-Ghazali,
“لا تَحْقِرَنَّ الدُّعَاءَ، فَإِنَّهُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ”
“Janganlah kamu meremehkan doa, karena doa adalah senjata orang beriman dan tiang agama.”
(Ihya’ Ulumuddin, Juz 1)
Doa itu bukan backup plan, tapi justru senjata utama. Apalagi di awal tahun, ketika dunia belum tentu lebih ramah, tapi langit tetap terbuka buat pendosa yang ingin mencoba. Doa adalah caramu bilang, “Ya Rabb, aku masih mau diperbaiki.” Karena tahun boleh baru, tapi kalau hatimu masih yakin sama rahmat-Nya—itu udah langkah besar banget.

Pawai obor tuh favorit semua ibu-ibu. Kenapa? Karena ini satu-satunya momen dalam setahun di mana baju seragam satu RT bisa dipakai dengan bangga, bukan karena kawinan, tapi karena ibadah. Dari daster motif batik sampai mukena tim senam, semua turun lapangan. Tapi jangan anggap sepele. Obor itu bukan cuma lilin gede yang dipasang di bambu—itu simbol iman. Di zaman gelap karena algoritma for you page, nyala obor kampung jadi semacam deklarasi: “Kami masih punya cahaya, Bro!” Anak-anak lari bawa obor sambil takut kena tetesan minyak, bapak-bapak sibuk nyari rute yang gak lewat rumah mantan, dan remaja masjid? Tentu saja sibuk cari angle lighting terbaik buat update story: #1MuharamVibes.
Tapi di balik gegap gempita pawai itu, ada makna dalam yang sering luput: kita ini lagi jalan bareng, bawa cahaya, dalam malam yang gelap. Bukankah hidup juga gitu? Kita gak selalu tahu arahnya, tapi kalau rame-rame dan saling jaga, minimal gak nyasar sendirian. Bahkan kalau pun nyasar, asal bareng warga, masih bisa ketawa sambil makan gorengan. Dan lucunya, obor yang cahayanya kecil itu, bisa lebih ngena ke hati daripada notif TikTok dari akun motivasi. Jadi… apakah cahaya obor ini hanya menerangi jalan, atau juga bisa nyalain hati kita yang kadang remang-remang karena kesepian dan terlalu sering overthinking?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ…”
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Pawai obor bukan sekadar parade. Ia adalah metafora kehidupan umat Islam: kita jalan bareng, bawa cahaya, saling peduli, dan saling jaga agar nggak jatuh—secara fisik maupun iman. Dan kadang, yang bikin hidup terasa lebih hangat bukan cahaya lampu kota, tapi obor kecil yang dipegang anak-anak kampung dengan hati besar.
Pawai obor tuh favorit semua ibu-ibu. Kenapa? Karena ini satu-satunya momen dalam setahun di mana baju seragam satu RT bisa dipakai dengan bangga, bukan karena kawinan, tapi karena ibadah. Dari daster motif batik sampai mukena tim senam, semua turun lapangan. Tapi jangan anggap sepele. Obor itu bukan cuma lilin gede yang dipasang di bambu—itu simbol iman. Di zaman gelap karena algoritma for you page, nyala obor kampung jadi semacam deklarasi: “Kami masih punya cahaya, Bro!” Anak-anak lari bawa obor sambil takut kena tetesan minyak, bapak-bapak sibuk nyari rute yang gak lewat rumah mantan, dan remaja masjid? Tentu saja sibuk cari angle lighting terbaik buat update story: #1MuharamVibes.
Tapi di balik gegap gempita pawai itu, ada makna dalam yang sering luput: kita ini lagi jalan bareng, bawa cahaya, dalam malam yang gelap. Bukankah hidup juga gitu? Kita gak selalu tahu arahnya, tapi kalau rame-rame dan saling jaga, minimal gak nyasar sendirian. Bahkan kalau pun nyasar, asal bareng warga, masih bisa ketawa sambil makan gorengan. Dan lucunya, obor yang cahayanya kecil itu, bisa lebih ngena ke hati daripada notif TikTok dari akun motivasi. Jadi… apakah cahaya obor ini hanya menerangi jalan, atau juga bisa nyalain hati kita yang kadang remang-remang karena kesepian dan terlalu sering overthinking?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ…”
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Pawai obor bukan sekadar parade. Ia adalah metafora kehidupan umat Islam: kita jalan bareng, bawa cahaya, saling peduli, dan saling jaga agar nggak jatuh—secara fisik maupun iman. Dan kadang, yang bikin hidup terasa lebih hangat bukan cahaya lampu kota, tapi obor kecil yang dipegang anak-anak kampung dengan hati besar.

Minum susu di awal tahun itu sebenarnya tradisi yang underrated banget. Padahal kalau direnungkan, ini bukan cuma perkara kalsium, tapi simbol spiritual yang dalam banget—kayak hati yang belum pernah kena PHP. Susu itu putih, bersih, kayak file PDF yang belum diedit. Nabi Muhammad ﷺ saat Isra Mi’raj ditawari dua bejana: satu berisi susu, satu lagi khamr. Beliau pilih susu. Lalu malaikat Jibril langsung memuji pilihan itu sebagai fitrah. Pertanyaannya sekarang: kalau kita dihadapkan pilihan susu atau diskon flash sale, mana yang kita ambil duluan?
Tradisi minum susu putih ini populer di kalangan habaib dan pesantren yang berafiliasi ke Makkah. Salah satu tokoh besar yang menghidupkannya adalah Sayyid Syaikh Alwi al-Maliki, ulama Makkah yang juga guru dari banyak habaib Nusantara. Beliau sering membagikan susu putih di malam satu Muharam, bukan cuma buat seger-segerin tenggorokan, tapi buat menandai niat suci di awal tahun. Ibaratnya, kita disuguhi “tombol reset hati”, biar lembaran baru kita dimulai dengan kesadaran spiritual, bukan cuma resolusi yang gagal lagi kayak tahun kemarin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أُتِيتُ بِإِنَاءٍ فِيهِ لَبَنٌ وَإِنَاءٍ فِيهِ خَمْرٌ، فَنَظَرْتُ إِلَيْهِمَا، فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ
“Aku didatangkan dua bejana, satu berisi susu dan satu berisi khamr. Aku melihat keduanya, lalu aku mengambil susu. Jibril berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk kepada fitrah.’”
(HR. Bukhari no. 3887, Muslim no. 168)
Hadits ini menunjukkan bahwa pilihan Rasulullah ﷺ terhadap susu adalah simbol dari fitrah manusia yang suci. Minum susu di awal Muharam bisa dimaknai sebagai simbol spiritual: kita ingin kembali ke hati yang bersih, pikiran yang lurus, dan hidup yang gak kebanyakan dosa. Kalau dulu susu hanya dianggap menu sarapan, sekarang anggaplah sebagai menu pembuka pertobatan. Bukankah lebih baik minum susu sambil istighfar, daripada minum kopi sambil mikirin mantan?
Imam Al-Ghazali pun berkata:
قال الإمام الغزالي رحمه الله:
“البداية الطيبة سر البركة في كل أمر.”
“Permulaan yang baik adalah rahasia keberkahan dalam setiap urusan.”
(Ihya’ Ulumuddin, Juz 4)
Jadi, mari mulai tahun ini dengan sesuatu yang sederhana tapi bermakna. Segelas susu mungkin gak bisa bikin kita langsung suci total, tapi itu bisa jadi langkah awal untuk pulang. Karena yang Allah lihat bukan kehebatan aksi kita, tapi kejujuran niat kita. Dan kalau pun minumnya sambil merem karena ngantuk, asal hatinya ikhlas, itu tetap langkah menuju berkah. Jadi… sudah siap minum susu atau masih ngarepin jodoh duluan?

Tradisi nulis “Bismillahirrahmanirrahim” 113 kali itu mirip kayak ngisi pulsa hati yang udah lowbat seharian karena scroll drama netizen. Ada yang nulis di buku tulis, ada yang di kertas bekas ujian, bahkan ada yang nekat upload tulisan ke status, padahal bentuk hurufnya bikin Ustadz kaligrafi pingsan. Tapi santai aja, karena Allah gak nyari tipografi, Dia liat hati kita. Dan iya, 113 itu bukan angka random kayak kode OTP, tapi karena surat At-Taubah gak pakai basmalah, jadi kita “top up” 1 lagi biar balance! Kayak lagi nyatuin dua sisi hati—yang satu penuh rahmat, yang satu penuh perjuangan.
Lucunya, tradisi ini juga bisa jadi terapi tangan. Di era semua orang bisa ngetik tanpa lihat keyboard, nulis basmalah huruf per huruf itu semacam nostalgia zaman SD. Ada huruf yang mirip cacing gelisah, ada yang bentuknya kayak angka Arab yang nyasar, tapi justru di situ seninya. Karena menurut para ulama, dzikir itu bukan cuma yang diucapkan, tapi juga yang ditulis, asal niatnya untuk mengingat Allah. Jadi meskipun nulisnya sambil ngemil kerupuk atau ngadem depan kipas, kalau hatinya nyambung ke langit, ya pahalanya ngalir kayak kuota unlimited.
قال الإمام النووي رحمه الله
“الذِّكْرُ بِاللِّسَانِ وَالْكِتَابَةِ كِلَاهُمَا مَشْرُوعٌ إِذَا نُوِيَ بِهِ ذِكْرُ اللَّهِ”
“Dzikir dengan lisan dan tulisan, keduanya berpahala jika diniatkan untuk mengingat Allah.”
(Al-Adzkar, Imam Nawawi)
Pertanyaannya, kalau setiap tulisan basmalah itu ibarat pulsa batin, udahkah kita rasain sinyalnya makin kuat, atau cuma numpuk huruf kayak tugas sekolah tanpa rasa?

Membaca kisah hijrah Nabi di awal tahun itu bukan cuma nostalgia sejarah, tapi semacam nyalain GPS batin. Iya, karena hidup kadang kayak stuck di jalur macet yang itu-itu aja. Nabi Muhammad ﷺ ninggalin Mekkah bukan karena cari view baru buat healing, tapi karena suasananya udah toxic banget buat nyebarin wahyu. Kita juga kadang butuh hijrah, meski versinya beda: dari grup WhatsApp yang isinya hoaks dan stiker debat kusir, dari circle nongkrong yang cuma ngomongin mantan orang, atau sekadar uninstall aplikasi yang tiap malam bikin kita lupa waktu dan lupa Tuhan. Bahkan kalau hijrahmu baru sebatas unfollow akun yang bikin iri hati, itu juga bagian dari perjalanan.
Karena sejatinya, hijrah itu bukan melulu soal pindah tempat — tapi pindah niat, pindah prioritas, pindah dari hidup yang ngambang ke hidup yang berpegangan. Dan ya, langkah pertamanya kadang absurd: ngetik “ya Allah bimbing aku” di notes HP, atau tiba-tiba merasa bersalah pas buka video lucu tapi ujungnya dosa. Tapi justru dari absurd itu, muncul kesadaran. Kayak Nabi dulu yang memulai perubahan peradaban dari gua dan jalan kaki, bukan dari studio podcast. Maka jangan remehkan hijrah kecilmu. Siapa tahu itu tiketmu menuju versi terbaik dirimu.
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(QS. An-Nisa’: 100)
Pertanyaannya: kalau Nabi bisa ubah dunia dari langkah hijrah yang sunyi, masa kita gak bisa ubah diri dari lingkaran yang bikin hati mati?
Kalau tadi kita udah bahas hijrah ala Nabi, sekarang kita masuk ke bab yang paling bikin perut ikut khusyuk: bubur suro! Ini bukan bubur ayam pinggir jalan yang isinya cuma dua butir kacang dan suwiran ayam pakai kacamata. Ini kuliner spiritual! Bubur suro dimasak dengan tujuh bahan utama, dan kadang lebih kompleks dari skripsi mahasiswa semester akhir. Ada beras, santan, daun salam, sereh, hingga kacang hijau yang entah kenapa masuk ke semua makanan tradisi Indonesia — meskipun 80% dari kita gak pernah sengaja makan kacangnya. Tapi tetap, suasana makannya itu yang bikin haru: rame-rame, sepiring berempat, dan gak ada yang ngeluh soal sendok rebutan. Karena di balik sepiring bubur suro, ada rasa syukur yang dicampur rata kayak santan dan garam.

Bubur suro juga ngajarin filosofi yang melebihi quote motivasi di Instagram. Hidup itu harus diaduk! Pahit, manis, asin, gurih — semua harus nyatu biar hidup punya rasa. Jangan mau cuma manis doang kayak kata-kata mantan pas butuh tumpangan. Kadang hidup kasih kamu rasa asin: rezeki seret, ditinggal gebetan, atau dompet ketinggalan pas antri beli susu. Tapi Tuhan gak asal campur. Semua rasa itu ada tujuannya: supaya kita gak terlalu angkuh waktu manis, dan gak terlalu putus asa waktu pahit. Karena, ya, bubur suro aja harus aduk dulu biar enak, apalagi hidup.
Apakah kita hanya menikmati buburnya, atau juga merenungi campuran rasa hidup yang Tuhan sajikan sejak awal tahun ini?
Tradisi bubur suro memang erat kaitannya dengan semangat Muharam, terutama hari Asyura. Di Indonesia, ia bukan cuma makanan, tapi juga simbol syukur kolektif. Lewat semangkuk bubur yang penuh makna, kita diajak sadar: hidup bukan untuk dinikmati sendiri, tapi untuk dirasakan bersama. Jadi, jangan cuma upload bubur suro ke story, tapi juga aduk hati sambil bilang: “Ya Allah, aku siap menerima rasa apapun tahun ini — asal jangan hambar kayak chat ghosting.”
Lanjut ke salah satu tradisi yang sering bikin orang salah sangka: mandi suro. Banyak yang ngira ini ritual mistik kayak adegan sinetron malam Jumat, padahal sejatinya ini lebih bersih daripada hati akun fake Instagram yang hobinya ngintipin mantan. Mandi suro itu simbol penyucian diri — bukan cuma dari debu dan keringat, tapi juga dari dosa-dosa yang udah nempel kayak stiker promo di motor ojek. Di beberapa daerah, orang-orang berbondong-bondong mandi di sungai, di sumur tua, bahkan ada yang mandi di kamar mandi kos yang pintunya gak bisa ditutup, semua demi satu tujuan: restart hidup.
Zaman sekarang, kalau hati lagi mumet atau dosa udah numpuk, yang kita cari biasanya “healing”. Tapi healing yang sesungguhnya bukan staycation atau rebahan sambil nonton drama Korea pakai masker lumpur. Healing sejati itu ya… mandi. Tapi bukan sekadar guyur air — ini mandi niat tobat. Bahkan kalau sabunmu sabun bayi dan gayungmu udah retak, selama hatimu dewasa dan niatmu bersih, itu udah cukup untuk bikin langit tersenyum. Sebab, mandi suro ngajarin satu hal penting: kesucian itu bukan soal wangi-wangian, tapi soal keberanian membersihkan hati meskipun belum bisa move on dari dosa yang nyaman.
Setelah guyur kepala dan gosok badan, apakah kita juga mengguyur dosa dari hati, atau cuma mengganti baju tanpa mengganti perilaku?
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.”
(HR. Ibnu Majah no. 4250, dinilai hasan)

Tradisi mandi suro, jika dibarengi dengan niat tulus untuk bertaubat, sejalan dengan semangat hadits ini. Muharam bukan cuma soal ganti kalender, tapi soal ganti cara pandang terhadap hidup. Dan mandi suro bukan ritual aneh-aneh, tapi simbol bahwa kita siap memperbarui diri — bukan dengan efek filter, tapi dengan air, doa, dan hati yang pengin bersih.
Setelah mandi suro bikin badan seger kayak habis pulang dari laundry ekspres, sekarang kita masuk ke sesi dzikir bareng. Ini momen di mana semua orang duduk melingkar, wajah serius, tapi ada yang matanya udah 50% standby mode. Ada yang ngucap Ya Rahman Ya Rahim dengan suara gemetar karena haru, ada juga yang suaranya lebih mirip orang manggil kucing. Tapi justru di situ seninya: dzikir bareng itu kayak karaoke rohani. Gak masalah nadanya meleset, selama hatinya tepat sasaran. Bahkan suara bapak-bapak yang biasanya suka nyanyi dangdut di hajatan, malam itu jadi suara yang ikut menggema ke langit — bikin malaikat ikut senyum sambil bilang, “Nah, ini baru vibes surga!”
Dzikir bareng bukan cuma soal bareng-bareng baca lafadz, tapi bareng-bareng mengirim sinyal ke Tuhan. Di saat kita sibuk mengejar like dan view, dzikir ngajarin kita untuk berhenti sejenak dan cari koneksi yang lebih penting: koneksi hati ke Ilahi. Dan anehnya, di tengah lantunan dzikir yang kadang bikin ngantuk, justru ada air mata yang jatuh. Ada tetangga yang sebelumnya gak pernah sapa, malam itu tiba-tiba peluk sambil bilang maaf. Ada anak muda yang biasanya cuma main ML, malam itu malah baca tasbih sambil diem — mungkin karena sinyal hatinya akhirnya nyambung juga. Ternyata, kalau kita capek sendirian, obatnya bukan kabur ke kafe, tapi duduk bareng-bareng, inget Tuhan rame-rame.
Jika dzikir bareng bisa menenangkan jiwa lebih dalam dari scrolling reels tengah malam, kenapa kita masih cari tenang di tempat yang justru makin bikin overthinking?
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini kayak reminder dari langit: ketenangan itu bukan hasil dari liburan ke tempat hits, tapi dari menyebut nama-Nya. Dzikir bareng jadi ritual paling sederhana tapi luar biasa: gak butuh sound system mahal, gak butuh dresscode, yang penting hati niat, lidah bergerak, dan jiwa terbuka. Muharam jadi momen pas untuk recharge — bukan cuma paket data, tapi paket iman dan tenang yang cuma bisa diakses lewat dzikir.
Di awal tahun Hijriah, ada tradisi yang mungkin gak seviral tren OOTD TikTok, tapi diam-diam bikin adem: pakai baju putih rame-rame. Dari pesantren sampai pengajian ibu-ibu, semua tumben kompak — kayak acara reuni alumni surga. Ada yang bajunya putih kinclong kayak sabun iklan, ada juga yang putihnya udah agak kecokelatan karena usia dan perjuangan nyuci manual. Tapi tenang, niat tetap yang utama. Pakaian putih ini bukan sekadar warna kain, tapi simbol bahwa kita ingin mulai tahun ini kayak halaman baru: kosong, bersih, dan siap ditulis takdir-takdir manis dari langit.
Kalau dipikir-pikir, kita sering banget ribet mikirin baju buat pesta, tapi lupa mikirin baju hati buat ketemu Allah. Nah, pakai baju putih di momen awal Muharam itu semacam kode: “Ya Allah, aku mau bersih-bersih, bukan cuma dari luar, tapi juga dari dalam.” Apalagi kalau yang pakai baju putih sambil senyum dan salaman sama orang yang kemarin sempat disindir di status — itu level keikhlasan udah kayak wali. Baju putih bikin kita inget: hidup ini pendek, dan kita semua lagi antri buat dikafanin. Jadi, siapa tahu, baju putih awal tahun ini bukan cuma style, tapi latihan mental: siap bersih lahir batin.
Apakah baju putih yang kita kenakan hanya kain biasa, atau sudah jadi niat tulus untuk membersihkan jiwa dari noda-noda yang selama ini kita pura-pura gak lihat?
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Kenakanlah pakaian putih, karena itu lebih suci dan lebih baik bagi kalian, dan kafanilah orang mati kalian dengannya.”
(HR. Abu Dawud no. 4061, Tirmidzi no. 994)
Hadits ini bukan cuma saran fashion, tapi ajakan batin untuk hidup lebih bersih, lebih suci, dan lebih siap. Jadi, jangan remehkan ritual ini. Biarpun baju putihnya udah bolong dikit atau warnanya mirip salju habis leleh, selama niatnya tulus, itu udah jadi langkah awal menuju jiwa yang pengen kembali kinclong di hadapan Tuhan.
Di antara semua ritual yang rame dan berisik, ada satu amalan yang diam-diam paling powerful: sedekah di awal tahun. Tapi, jujur aja ya, kadang kita mikir, “Lah, ini baru juga gajian belum turun full, udah disuruh sedekah?” Nah justru itu seni-nya. Sedekah awal tahun tuh ibarat kita lempar benih ke tanah kering, belum kelihatan apa-apa, tapi udah yakin bakal tumbuh mangga manis. Bukan soal berapa nominalnya, tapi seberapa yakin kita kalau Tuhan gak akan ngebikin orang yang dermawan jadi miskin gara-gara ngasih sebungkus nasi.
Rasulullah ﷺ udah wanti-wanti dengan gaya yang simpel tapi ngena:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim no. 2588)

Coba deh pikir, kalau tiap sedekah itu nambah berkah, lalu kenapa kita masih takut? Takut dompet kempes, takut gak bisa checkout keranjang merah, atau takut saldo e-wallet tinggal seribu perak. Padahal logika langit itu beda: sedekah itu kayak ngeklik tombol “top up berkah.” Gak kelihatan langsung, tapi efeknya bisa bikin hidupmu lebih enteng, dagangan lebih laku, dan hati lebih lapang — bahkan di tengah tagihan listrik yang tiba-tiba naik.
Apakah kita masih menahan tangan saat Allah menjanjikan bahwa memberi adalah jalan untuk ditambah, bukan dikurang?
Sedekah di bulan Muharam, terutama di hari Asyura, adalah semacam tabungan spiritual yang bunganya bukan dalam bentuk rupiah, tapi dalam bentuk ketenangan, kesehatan, dan kejutan-kejutan rezeki tak terduga. Jadi, kalau awal tahun ini kamu cuma bisa sedekah sebungkus nasi, seplastik susu, atau sekeping receh — asal ikhlas — kamu udah jadi investor langit. Dan percayalah, Tuhan gak pernah telat bayar dividen.
Nah, ini dia ritual yang sering di-skip tapi justru paling niat: menulis resolusi hijrah. Di beberapa komunitas, orang diajak duduk bareng, lalu diminta nulis: “Hijrah apa nih yang mau kamu jalani tahun ini?” Hasilnya? Kreatif banget. Ada yang tulis, “Hijrah dari rebahan jadi rajin ke masjid,” atau yang lebih dramatis: “Hijrah dari mantan ke yang halal (semoga bukan fiktif).” Bahkan ada yang tulis, “Hijrah dari jastip Korea ke nabung umroh,” walaupun checkout skincare-nya tetap jalan terus. Tapi jangan salah, menulis itu gak remeh. Itu ibarat kita bikin kontrak spiritual dengan diri sendiri — dan Tuhan tahu, meski kita langgar dikit-dikit, minimal niatnya pernah ada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan…”
(HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907)
Pertanyaannya sekarang: apakah resolusi hijrah yang kita tulis akan berakhir jadi wallpaper HP, atau benar-benar jadi jalan perubahan? Karena banyak hijrah itu gagal bukan karena kurang kuat, tapi karena gak jelas tujuannya. Kayak orang yang niat hijrah dari “toxic relationship”, tapi masih nge-like story-nya tiap malam. Niat yang ditulis bisa jadi jangkar — walau kecil, dia bisa bikin kapal hidupmu gak hanyut kemana-mana. Jadi, tahun ini, coba ambil kertas, tarik napas, dan tulis hijrah versimu. Biar kalau nanti khilaf, kita masih bisa bilang ke Tuhan: “Aku udah niat, Ya Allah… tinggal eksekusinya yang kadang delay.”
Dan akhirnya, kita sampai juga di ujung parade Muharam yang penuh warna ini. Dari susu sampai bubur, dari obor sampai tulisan basmalah, semua ritual ini bukan lomba “siapa paling Islami”, tapi kayak bisikan lembut dari langit: “Hei, kamu masih punya kesempatan, lho.” Karena mari jujur—siapa sih yang bisa berubah total dalam satu malam? Bahkan aplikasi di HP aja kalau di-update, masih minta restart dulu. Jadi wajar kalau hijrah kita belum sempurna, asal jangan nyerah sebelum mulai. Kalau tahun kemarin kamu lebih sering buka checkout daripada mushaf, yaudah, sekarang waktunya ganti: checkout ampunan, masukin ke keranjang doa.
Allah berfirman:
وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)
Lalu pertanyaannya: di tengah hidup yang gak selalu lucu ini, kita mau terus ngedumel sama diri sendiri atau mulai jalan pelan-pelan ke arah cahaya? Karena yang Tuhan minta itu bukan kamu langsung jadi wali dalam semalam. Cukup nyalain obor kecil di hati. Cukup angkat tangan dan bilang, “Ya Allah, aku pengin berubah.” Dan percayalah, bahkan langkah paling absurd pun — asal arahnya ke Allah — itu lebih mulia daripada diam dalam gelap sambil nonton reels tanpa henti. Selamat Tahun Baru Hijriyah. Mari mulai lagi, pelan-pelan, sambil senyum, sambil dzikir, sambil ngaduk bubur.
Cipasung 1 Muharam 1447
Hatur nuhun Pangersa Akang
Sami-sami pangersaa ajengan