Tahun yang Berlari, Dosa yang Tertinggal

Renungan dan Doa Akhir Tahun

Tahun ini nyaris berlalu, dan aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan seperti seorang kekasih yang gagal meminta maaf pada detik-detik terakhir perpisahan. Kalender menipis, waktu menguap, dan tiba-tiba aku dihadapkan pada cermin waktu: begitu banyak yang terlewat, begitu banyak yang terluka, dan begitu banyak yang salah. Dalam hati, aku menggumam lirih: tahun ini tak cukup baik, dan aku pun tak cukup taat.

Aku telah melangkah jauh—terlalu jauh, seringkali bukan menuju-Mu, tapi menjauh dari-Mu. Hari-hari penuh kesibukan kulalui tanpa makna, rutinitas yang kulilit sendiri seakan menegaskan bahwa aku terlalu sibuk untuk menghadap kepada-Mu. Di balik segala pencapaian dan deretan senyum yang kutebar, aku tahu: ada kekosongan yang tak bisa ditutupi apa pun selain Engkau. Aku tertawa dengan wajah penuh semangat, namun hatiku sepi. Aku kuat di hadapan manusia, tapi rapuh di hadapan-Mu.

Aku begitu sering lupa, padahal Engkau tidak pernah. Lupa untuk bersyukur, lupa untuk meminta ampun, lupa untuk menyisihkan waktu merenungi betapa aku hidup karena-Mu. Ketika malam telah larut dan Engkau menunggu di sepertiga akhir, aku malah terlelap dalam pelukan layar ponsel. Ketika pagi memanggil lewat lantunan adzan, aku masih sibuk menunda kehidupan yang sesungguhnya. Bukannya menyambut seruan-Mu, aku malah menenggelamkan diri dalam kebisingan dunia.

Namun yang paling membuatku gentar bukanlah ingatan akan dosa-dosa besar yang mungkin bisa kusebutkan, melainkan dosa-dosa kecil yang begitu sering kuanggap remeh. Dosa-dosa yang kulakukan diam-diam, dengan anggapan bahwa tidak ada yang melihat—padahal Engkau Maha Melihat. Dosa-dosa yang kupikul tanpa sadar telah menumpuk dan menghitamkan nurani. Aku tahu, ya Rabb… aku tahu. Tapi aku terlalu sering berpura-pura tidak tahu.

Aku terlalu sering berharap surga, padahal langkahku menuju sebaliknya. Terlalu sering menuntut doa dikabulkan, padahal aku sendiri malas menyebut nama-Mu. Aku berdoa agar hidupku diberkahi, tapi lupa memulai hari dengan menyebut asma-Mu. Aku memohon keselamatan, tapi tak peduli apakah aku hidup dalam jalan yang Engkau ridhai. Begitu banyak kontradiksi dalam diriku, dan Engkau tetap bersabar.

Engkau tidak buru-buru menghukum. Engkau membiarkan aku jatuh dan terluka oleh kesalahanku sendiri—bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyadarkan. Di balik semua itu, Kau kirimkan sinyal cinta. Satu demi satu. Dalam bentuk rasa sesak, dalam bentuk kecewa, dalam bentuk sepi yang mencekik. Semua itu adalah panggilan pulang. Aku mengabaikannya terlalu lama. Tapi malam ini aku ingin kembali.

Bukan sebagai hamba yang suci. Bukan sebagai orang yang pantas meminta banyak hal. Tapi sebagai pendosa yang tak sanggup lagi menahan beratnya beban. Aku datang dengan tangan kosong dan jiwa yang berantakan. Tak ada amal unggulan untuk kubanggakan, tak ada prestasi ruhani yang bisa kupersembahkan. Yang kupunya hanya air mata dan sesal. Dan harapan.

Maka izinkan aku menyambut akhir tahun ini dengan doa yang bukan sekadar hafalan bibir, tapi jerit jiwa yang ingin pulang. Dan malam ini, dari hatiku yang paling dalam, aku membaca:

اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ
Ya Allah, segala perbuatanku dalam tahun ini—yang berupa hal-hal yang Engkau larang, yang tidak Engkau ridhai…

وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ
…dan aku telah melupakannya, sementara Engkau tidak melupakannya…

وَحَلِمْتَ عَنِّي بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَىٰ عُقُوبَتِي
…dan Engkau tetap bersabar terhadapku meskipun Engkau mampu menghukumku…

وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرْأَتِي عَلَيْكَ
…dan Engkau mengajakku untuk bertaubat setelah aku berani lancang terhadap-Mu…

اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي
Ya Allah, maka sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu atas perbuatan itu, maka ampunilah aku…

وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تُقَرِّبُنِي بِهِ إِلَيْكَ فَاقْبَلْهُ مِنِّي
Dan setiap amal yang aku lakukan yang bisa mendekatkan diriku kepada-Mu, maka terimalah itu dariku…

وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Dan janganlah Engkau putuskan harapanku dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi…

Ya Allah… jika esok aku masih hidup, maka biarkan aku hidup sebagai hamba yang baru. Hamba yang tak sempurna, tapi tulus ingin pulang. Hamba yang mungkin masih jatuh, tapi selalu bangkit. Hamba yang belajar mencintai-Mu lebih dari dunia. Hamba yang tidak ingin lagi hidup tanpa makna, tanpa sujud, tanpa rasa takut kehilangan-Mu.

Tahun ini akan berakhir. Tapi aku tidak ingin pengampunan-Mu berakhir. Terimalah taubatku, ya Allah… walau terlambat, walau getir. Sebab jika Engkau menerimanya, maka tak ada lagi yang lebih membahagiakan di tahun yang baru nanti… selain bisa pulang ke dalam pelukan rahmat-Mu yang luas.

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *