Menemukan Cahaya di Tengah Kegelapan Digital

Oleh Ajang Muhammad Abdul Jalil

Ngalenyeupan Surat Annaml ayat 1-6, Tanggal 17 Sya’ban 1447 H

Sebuah Jeda Untuk Kiamat yang ramai di Media Sosial


Pernahkah kita merasa bahwa hari ini dunia sedang berteriak melalui layar ponsel kita? Kabar duka, tragedi kemanusiaan yang berdarah, hingga skandal moral tokoh publik datang silih berganti dalam hitungan detik. Kita hidup di era di mana “kiamat kecil” terjadi setiap hari di beranda media sosial, namun ironisnya, kita seringkali merasa lebih asing dengan diri sendiri daripada dengan nasib orang di belahan bumi lain. Apakah tumpukan informasi ini mendewasakan jiwa, atau justru mematikan empati kita secara perlahan?


Ketajaman tafsir Ar-Razi mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah Al-Kitab yang tertulis sekaligus Al-Qur’an yang dibaca. Sebagaimana redaksi asli beliau: لِأَنَّهُ مَا يَظْهَرُ بِالْكِتَابَةِ وَيَظْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ (karena ia tampak nyata melalui tulisan dan tampak nyata melalui bacaan). Di tengah banjir informasi palsu atau hoax yang memicu tragedi fisik, kita butuh pegangan yang “Mubin” atau nyata penjelasannya. Tragedi hari ini seringkali berakar dari ketidakjelasan informasi yang ditelan mentah-mentah. Jika kitab suci saja menuntut kejelasan melalui ﴿وَكِتَابٍ مُّبِينٍ﴾, mengapa kita begitu mudah percaya pada narasi tanpa rupa yang menghasut amarah?


Ayat pertama Surah An-Naml dibuka dengan Thasin, sebuah kode ketuhanan yang menurut Al-Alusi mengisyaratkan tingginya kemuliaan wahyu melalui بُعْدِ الْمَنْزِلَةِ فِي الْفَضْلِ وَالشَّرَفِ (jauhnya kedudukan dalam keutamaan dan kemuliaan). Di sisi lain, kita melihat fenomena “manusia algoritma” yang hidupnya disetir oleh tren, bukan nilai. Kita sering mengejar kemuliaan semu di mata pengikut digital, namun abai pada kemuliaan hakiki yang bersifat Ladun—berasal langsung dari sisi Tuhan yang Maha Bijaksana. Bukankah lucu jika kita lebih takut pada shadow ban daripada “terputusnya hidayah”?


Al-Mawardi dalam tafsirnya membagi hidayah menjadi dua: هُدًى مِنَ الضَّلالَةِ وبُشْرى بِالجَنَّةِ (petunjuk dari kesesatan dan kabar gembira tentang surga). Dalam konteks hari ini, kesesatan bukan lagi soal tidak tahu jalan, melainkan terlalu banyak jalan yang semuanya mengaku benar. Tragedi penipuan massal atau investasi bodoh yang merenggut nyawa pelakunya karena putus asa adalah potret nyata hilangnya hidayah akal. Kita butuh petunjuk yang tidak hanya menenangkan hati, tapi juga menyelamatkan logika dari lubang eksploitasi.

Mengapa mereka yang tampak paling religius di profil media terkadang paling tajam kata-katanya dalam menghujat? Ayat ketiga menyebutkan bahwa mukmin sejati adalah

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ —Al-Qurthubi menekankan bahwa menegakkan berarti اسْتِيفاءُ فُرُوضِها وسُنَّتِها —menyempurnakan kefarduan dan sunnah-sunnahnya.

Jika salat kita belum mampu mencegah jempol kita dari menyebar fitnah, mungkin kita baru sebatas “melakukan” salat, belum “menegakkannya” sebagai perisai moral.


Fenomena زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ —atau dihiasinya amal buruk hingga tampak indah adalah penyakit kronis era post-truth. Sebagaimana redaksi Al-Qurthubi:

أَعْمَالُهُمُ السَّيِّئَةُ حَتَّى رَأَوْهَا حَسَنَةً —amal-amal buruk mereka dihiasi hingga mereka melihatnya sebagai kebaikan. Kita melihat bagaimana kejahatan dikemas dengan estetika yang menawan, atau korupsi yang dibungkus dengan narasi kedermawanan. Ketika keburukan terlihat sebagai prestasi, itulah awal dari kekacauan kolektif yang kita saksikan dalam berita-berita kriminal hari ini.


فَهُمْ يَعْمَهُونَ —maka mereka terombang-ambing. Kalimat ini adalah deskripsi paling akurat untuk masyarakat yang kehilangan kompas spiritual, di mana Ibnu Abbas menafsirkan ya’mahuun sebagai يَتَرَدَّدُونَ (berbolak-balik dalam kebingungan). Tragedi tawuran remaja atau perundungan yang berujung maut di sekolah menunjukkan betapa bingungnya generasi kita dalam mencari identitas. Mereka bergerak tanpa arah, persis seperti gambaran penyair dalam tafsir Al-Mawardi: أَعْمَى الْهُدَى بِالْحَائِرِينَ الْعُمَّهِ —membutakan petunjuk bagi orang-orang bingung yang tersesat.
Mengapa keyakinan pada akhirat melalui redaksi وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ begitu ditekankan? Karena ia adalah rem darurat bagi keserakahan manusia. Ar-Razi menjelaskan bahwa pengulangan kata “Hum” (mereka) menunjukkan hamba yang sejati adalah الْجامِعُونَ بَيْنَ الْإِيمانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ —mereka yang menghimpun antara iman dan amal saleh. Jika kita yakin bahwa setiap detik aktivitas digital kita akan dihisab, kita tidak akan semudah itu mengetik komentar kebencian. Keyakinan pada akhirat bukan tentang kematian, melainkan tentang bagaimana cara kita menghargai kehidupan.


Tragedi yang ramai hari ini, baik itu bencana alam maupun bencana moral, sebenarnya adalah “ayat-ayat” Tuhan yang sedang berbicara. Allah menyebut Al-Qur’an sebagai هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ. Namun, bagaimana kabar gembira bisa dirasakan jika telinga kita lebih sering mendengar bisikan kebencian? Kita perlu melakukan detoksifikasi jiwa, menyaring kembali apa yang masuk ke dalam hati agar kita bisa kembali menjadi “orang-orang yang yakin” (yuuqinuun).


Solusinya tidak selalu harus rumit atau politis. Mulailah dengan mengembalikan fungsi salat sebagai “waktu istirahat” dari hiruk-pikuk dunia, bukan sekadar penggugur kewajiban. Salat yang benar akan melahirkan ketenangan, dan ketenangan akan melahirkan kebijaksanaan (hikmah). Sebagaimana akhir ayat keenam, مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ, Al-Qur’an diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana. Bijaksana berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya; menempatkan Tuhan di atas segalanya, dan manusia sebagai sesama yang harus dicintai.


Zakat melalui redaksi وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ juga bukan hanya soal memindahkan uang dari satu kantong ke kantong lain. Al-Mawardi menyebut salah satu maknanya adalah تَطْهِيرُ أَجْسَادِهِمْ مِنْ دَنَسِ الْمَعَاصِي (mensucikan tubuh mereka dari noda maksiat). Di era konsumerisme yang gila ini, zakat adalah pernyataan perang melawan ketamakan. Tragedi kemiskinan ekstrem di tengah kemewahan kota besar adalah tamparan keras bagi kita yang mengaku beriman. Iman tanpa aksi sosial hanyalah sebuah retorika kosong.


Mari kita jujur, apakah kita termasuk هُمُ الْأَخْسَرُونَ—orang-orang yang paling rugi? Al-Qurthubi menjelaskan bahwa mereka adalah خَسِرُوا الْآخِرَةَ بِكُفْرِهِمْ فَهُمْ أَخْسَرُ كُلِّ خَاسِرٍ (mereka yang merugi di akhirat karena kekafirannya, maka mereka adalah yang paling rugi dari segala orang yang rugi). Ini adalah peringatan bagi kita yang merasa sudah selamat hanya karena sering membagikan konten religi, namun di dunia nyata abai pada kemanusiaan. Kesalehan digital harus selaras dengan kesalehan sosial agar tidak menjadi kerugian yang absolut.


Penerimaan wahyu melalui لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ digambarkan oleh para mufasir sebagai proses pengambilan yang penuh kesadaran, sebagaimana Qatadah mengartikannya: لَتَأْخُذُ الْقُرْآنَ (engkau benar-benar mengambil/menerima Al-Qur’an). Kita pun harus “menerima” kebenaran dengan kesadaran penuh, bukan karena ikut-ikutan tren. Keberanian untuk berdiri di atas prinsip kebenaran di tengah arus opini publik yang salah adalah bentuk ketaatan yang nyata. Jangan biarkan algoritma internet menentukan mana yang benar dan mana yang salah.


“Kiamat” yang ramai di media adalah pengingat bahwa dunia ini rapuh. Namun, di balik kerapuhan itu, ada kekuatan besar bagi mereka yang mau berpikir. Ayat-ayat An-Naml ini adalah “peta jalan” untuk navigasi di tengah badai informasi. Ia mengarahkan kita untuk fokus pada tiga hal utama: kejernihan informasi (Mubin), perbaikan karakter individu (Salat), dan tanggung jawab sosial (Zakat). Tanpa ketiga hal ini, kita hanya akan menjadi butiran debu yang terbang tertiup angin amarah publik.


Kita tidak perlu menjadi ulama besar untuk memahami bahwa kasih sayang adalah inti dari petunjuk (Huda). Tragedi seringkali berawal dari hilangnya rasa hormat pada sesama manusia. Jika kita kembali pada konsep ﴿بُشْرَىٰ﴾ (pemberi kabar gembira), maka tugas kita sebagai manusia adalah menjadi pembawa solusi, bukan penambah masalah. Jadilah pribadi yang jika hadir, ia menenangkan; jika berucap, ia mencerahkan; dan jika bertindak, ia menyelamatkan.


Akhirnya, mari kita renungkan kata mutiara yang tersirat dari ayat-ayat ini: “Keyakinan pada hari akhir adalah cahaya yang menerangi kegelapan hari ini.” Jangan sampai kita kehilangan masa depan abadi hanya demi kemenangan semu di dunia yang sebentar ini. Sebagaimana Al-Qurthubi menutup tafsirnya: هَذِهِ الْآيَةُ بِسَاطٌ وَتَمْهِيدٌ (ayat ini adalah hamparan dan pendahuluan) bagi kebijakan dan ilmu Tuhan yang maha luas.


Jangan biarkan diri kita “Ya’mahuun” (kebingungan) dalam kemeriahan dunia yang menipu. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya dengan menjadi penonton tragedi tanpa pernah menjadi bagian dari solusi. Jadilah “Mubayyin”, orang yang mampu menjelaskan kebenaran lewat tindakan nyata. Karena pada akhirnya, yang akan menemani kita di liang lahat bukan jumlah “like” di unggahan kita, melainkan ketulusan sujud dan zakat yang pernah kita alirkan.


Satu langkah kecil hari ini jauh lebih berharga daripada seribu rencana besar yang hanya ada di kepala. Berhentilah sejenak dari layar Anda, lihatlah sekeliling, dan tanyakan: “Kebaikan apa yang bisa saya lakukan sekarang agar saya tidak termasuk golongan yang paling rugi?”. Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan membimbing kita kembali pada jati diri sebagai mukmin yang sejati. Sebab, petunjuk itu bukan untuk dicari di kejauhan, tapi untuk dipraktikkan dalam kedekatan.


Mari kita tutup dengan komitmen sederhana: Menjadikan Al-Qur’an bukan sebagai pajangan di rak buku, melainkan sebagai “GPS” dalam genggaman jiwa. Semoga kita bukan hanya menjadi pembaca ayat, tapi juga menjadi “ayat yang berjalan” di tengah masyarakat yang sedang dahaga akan ketulusan. Bukankah lebih indah menjadi cahaya kecil yang menerangi daripada sekadar mengutuk kegelapan yang sedang ramai diberitakan?


Maukah kita memulai hari besok dengan satu pesan damai di media sosial kita, sebagai bentuk kecil dari menyebarkan “kabar gembira” (Busyra) bagi sesama?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *