Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam-dalam: “Apa sebenarnya arti dari mendidik?” Di zaman ketika pendidikan sering direduksi menjadi tumpukan nilai, ranking, dan ijazah—pertanyaan ini seolah tak penting. Padahal, di sinilah awal mula segalanya. Filsafat pendidikan Islam membuka pintu renungan itu melalui pisau pertama: ontologi, yakni pertanyaan tentang hakikat keberadaan pendidikan itu sendiri. Jika pendidikan adalah rumah, maka ontologi adalah pondasi di bawahnya—tak terlihat, tapi menopang segalanya.
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukanlah proses memproduksi “manusia pabrik” yang semua seragam output-nya. Ia adalah upaya menumbuhkan potensi fitrah manusia secara utuh: jasadnya, akalnya, dan ruhnya. Seperti merawat kebun, kita tidak hanya menyiram daunnya, tapi juga mencabut gulma, memberi pupuk, dan memastikan tanaman tumbuh sesuai kodratnya. Maka anak-anak bukan kertas kosong untuk diisi, melainkan benih hidup yang perlu ditumbuhkan.
Tujuan akhir pendidikan dalam Islam bukan sekadar kerja bagus, gaji besar, rumah dua lantai, tapi insān kāmil, manusia paripurna. Seorang yang utuh, mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, dan hidup untuk memberikan manfaat. Bukankah ini jauh lebih mulia dari sekadar mencetak pegawai negeri atau lulusan cumlaude yang tak tahu arah hidup? Pendidikan Islam bukan sekadar menyiapkan manusia untuk pasar kerja, tapi untuk perjalanan abadi menuju Allah.
Hakikat manusia menurut Islam tidak berhenti pada jasad yang makan, tidur, dan bekerja. Ia adalah makhluk transendental, ditiupkan ruh Ilahiah ke dalam tubuhnya. Maka mendidik manusia adalah menyentuh lapisan terdalam eksistensinya. Seperti memoles cermin agar ia kembali memantulkan cahaya. Kalau kita hanya mendidik fisiknya, maka kita menciptakan manusia yang kuat lari tapi lemah jiwa. Apakah kita sedang melahirkan generasi berotot tapi berotak kosong?
Ingat ayat pembuka wahyu: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…” (QS Al-‘Alaq: 1–5). Ayat ini bukan hanya perintah membaca, tapi pernyataan ontologis: bahwa manusia punya martabat ilmiah karena Allah mengajarkan. Maka pendidikan bukanlah karangan manusia, melainkan panggilan ilahiah. Bacalah! Tapi jangan sekadar membaca soal ujian. Bacalah dirimu, bacalah dunia, dan bacalah Tuhanmu di balik semua itu.
Ibnu Sina, tokoh besar dalam sejarah pendidikan Islam, dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan adalah proses menyempurnakan jiwa. Ia bukan hanya perkara akademik, tapi spiritual. Maka pendidikan sejati harus membuat manusia semakin bijak, bukan hanya pintar. Semakin beradab, bukan hanya berpengetahuan. Jika pendidikan hanya menambah data di kepala tanpa membersihkan jiwa, maka kita sedang mendidik untuk menciptakan kejahatan yang lebih canggih.
Tamtsilnya begini: bayangkan pendidikan seperti pandai besi. Jika besi itu dibakar dan ditempa, maka ia bisa menjadi pedang untuk membela kebenaran. Tapi jika ia salah arah, ia bisa berubah menjadi senjata penjagal. Maka tanpa dasar ontologi yang benar, pendidikan bisa melahirkan teknokrat tanpa etika, ilmuwan tanpa nurani, bahkan pemimpin tanpa kemanusiaan. Apakah hari ini kita sedang panen manusia-manusia berijazah tapi kehilangan arah?
Ontologi pendidikan Islam juga memandang bahwa potensi manusia itu bukan hasil tempelan, tapi fitrah. Setiap anak lahir membawa kecenderungan kepada kebaikan, kepada Allah, kepada akhlak mulia. Maka mendidik adalah membimbing fitrah itu, bukan memaksakan pola dari luar. Seperti air yang mengalir ke laut, pendidikan harus memberi ruang agar anak sampai ke muaranya sendiri. Tapi hari ini, banyak sekolah seperti bendungan—memaksa semua air mengalir ke satu arah yang dianggap “sukses”.
Ada keluhan klasik dari para siswa: “Buat apa sih belajar logaritma?” dan “Kenapa sih harus hafal sejarah kerajaan Sriwijaya?” Ontologi pendidikan Islam tak akan menjawab dengan, “Biar kamu lulus ujian!” tapi dengan: “Karena ini bagian dari membentuk akalmu, melatih jiwamu, agar kau mengenal siapa dirimu dan untuk apa hidupmu.” Maka belajar bukan hanya demi nilai, tapi demi membentuk makna diri. Tapi hari ini, masihkah ada sekolah yang menjadikan makna sebagai ukuran, atau semuanya sudah dikorbankan demi skor?
Dalam pandangan ini, guru adalah penuntun eksistensi, bukan hanya pengisi silabus. Ia adalah orang yang membangkitkan manusia dari tidur panjang ketidaktahuan menuju kesadaran hakiki. Ia bukan “penggugur tugas”, tapi murabbi—yang tak hanya bicara di depan kelas, tapi hadir dalam jiwa muridnya. Maka mengajar itu seperti menyalakan api di dalam dada manusia. Tapi hari ini, bukankah banyak guru yang dibatasi jadi “pengisi waktu 2×45 menit”?
Realitas pendidikan hari ini menunjukkan kesenjangan yang tajam. Sekolah mewah berdiri, laptop dan proyektor menyala, tapi banyak murid tak kenal dirinya sendiri. Apakah ini yang disebut kemajuan? Apakah pendidikan yang sukses diukur dari banyaknya gedung, atau dalamnya pemahaman manusia terhadap Tuhannya? Ontologi mengajak kita melihat ke dalam: apa sebenarnya yang sedang kita bangun? Sekolah atau sekadar ruang produksi ijazah?
Ontologi pendidikan Islam juga menolak dikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua ilmu—selama membawa manfaat dan mendekatkan manusia pada kebenaran—adalah bagian dari pendidikan Islam. Maka belajar fisika atau matematika, jika disertai niat dan pemahaman spiritual, bisa bernilai ibadah. Tapi hari ini, banyak yang memisahkan: yang agama itu untuk Jumat pagi, yang sains untuk Senin sampai Kamis. Apakah Tuhan berbeda di setiap hari?
Pada akhirnya, ontologi pendidikan Islam bukan hanya teori abstrak. Ia adalah lensa yang membuat kita melihat pendidikan sebagai sujud panjang di hadapan Allah. Ia menjawab pertanyaan paling dasar: “Mengapa kita harus dididik?” Jawabannya: karena Allah menghendaki manusia untuk mengenal-Nya. Maka jika sekolah tak menuntun ke arah itu, ia kehilangan hakikatnya. Pertanyaan pamungkasnya: Apakah hari ini kita masih mendidik manusia, atau sekadar membentuk data statistik bernama lulusan?