Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya

Dikisahkan, di tahun 80 Hijriah (sekitar 696 Masehi), lahirlah seorang bayi di Kufah, Irak, yang kelak akan jadi rockstar fikih Islam. Namanya Nu’man bin Tsabit, tapi lebih beken dipanggil Abu Hanifah. Bayangkan, beliau ini hidup di dua era politik yang hot, 52 tahun di zaman Umayyah dan 18 tahun di era Abbasiyah. Otaknya itu kayak mesin diesel, makin lama makin panas dan cerdas! Dari lahir sampai wafat di tahun 150 Hijriah (767 M), pikirannya ngebut terus, selalu ingin tahu apa yang belum dia tahu. Ini mah spesies langka, yang kehausan ilmu bukan kehausan kopi susu kekinian!
Nah, ini dia yang bikin plot twist! Bapaknya Abu Hanifah ini keturunan Persia dari Kabul, Afghanistan, tapi udah pindah ke Kufah duluan. Jadi, beliau ini bukan pure Arab, tapi ajam (non-Arab) yang keren maksimal. Bapaknya, Tsabit, adalah pedagang sutra raksasa yang saking gaulnya pernah ketemu langsung sama Sayyidina Ali bin Abi Thalib! Kalau zaman sekarang, bapaknya itu kayak konglomerat yang udah selfie sama presiden!
Yang paling touching dari kisah hidupnya adalah hubungannya dengan ibunya. Meski nama ibunya nggak begitu terekspos di buku sejarah (mungkin saking low-profile-nya), Abu Hanifah ini anak mama banget! Beliau sering banget bawa ibunya ke majelis ilmu, tempat dia belajar dan berdiskusi masalah umat. Bisa dibayangkan, di tengah perdebatan fikih yang serius, tiba-tiba ada suara lembut, “Nu’man, itu teh wudhu pakai air hangat apa dingin?” Ini menunjukkan betapa beliau sangat menghormati dan menaati ibunya, bahkan sampai berpendapat bahwa ketaatan pada orang tua itu penting banget biar nggak nyasar hidupnya. So sweet!
Gelar Abu Hanifah sendiri juga punya sejarah lucu. Ada yang bilang dari nama putranya, Hanifa. Ya wajar sih, bapaknya bangga punya anak. Tapi yang lebih unik, ada yang bilang kata “Hanifah” di logat Irak itu artinya “laci” atau “tinta”! Karena beliau ini selalu bawa dawat (tempat tinta) ke mana-mana buat nyatat ilmu dari gurunya. Jadi, bisa dibilang, beliau ini “Si Paling Tinta” atau “Tukang Catat Sejati”. Jauh sebelum ada notes di HP, beliau udah duluan jadi pencatat handal! Setelah terkenal, beliau resmi dapat gelar Imam Abu Hanifah, dan ijtihadnya jadi Mazhab Hanafi yang mendunia itu. Top tier branding!
Ciri-ciri fisiknya pun dicatat detail: tinggi rata-rata, aksen paling bagus (kayak broadcaster profesional), suara merdu (cocok buat podcast), dan paling jago ngasih informasi. Anaknya, Hamda, bilang bapaknya berkulit sawo matang, tampan, berwibawa, dan nggak banyak bicara kecuali kalau ditanya. Plus, nggak suka nimbrung urusan orang lain. Definisi “cool and collected”! Beliau juga fashionista sejati, suka baju bagus, bersih, dan pakai parfum wangi sampai orang bisa tahu, “Ah, ini pasti Abu Hanifah lewat!” bahkan sebelum melihatnya. Parfumnya jadi signature scent beliau!
Yang paling keren, beliau punya jiwa sosial tingkat dewa. Sering banget, orang yang tanpa sengaja lewat majelisnya, begitu mau pulang, langsung dihampiri Abu Hanifah. “Ada perlu apa, Mas? Kalau butuh sesuatu, saya kasih. Sakit? Ayo saya antar berobat. Punya utang? Sini, saya bayarin!” Ini mah “Abu Hanifah, Sang Pelunas Utang”! Beliau benar-benar ulama yang connect sama rakyat jelata. Keberaniannya mengatakan kebenaran pun luar biasa, nggak takut dikritik atau dibenci. Pokoknya, “Anti-Mundur-Mundur Club!”
Awalnya, Abu Hanifah adalah seorang saudagar sutra handal, melanjutkan jejak ayahnya. Jadi, beliau ini udah kaya dari lahir! Bayangkan, pagi di pasar sibuk closing deal kain sutra, malamnya ngafal Al-Qur’an. Ini membuktikan bahwa jadi pengusaha sukses dan hafal Al-Qur’an itu bisa berjalan seiring, tidak perlu ada drama pilih-pilih!
Titik balik hidupnya terjadi saat asy-Sya’bi, seorang ulama influencer zaman itu, melihat kilauan potensi dalam diri Abu Hanifah. Asy-Sya’bi mungkin bilang, “Nu’man, otakmu itu terlalu brilian cuma buat ngitung benang sutra. Ayo, invest ke ilmu!” Nasehat ini bagai petir di siang bolong bagi Abu Hanifah. Sejak itu, sang juragan kain berubah jadi pemburu ilmu sejati. Beliau melahap ilmu qira’at, hadis, nahwu, sastra, puisi, sampai teologi. Pokoknya, semua ilmu yang hits saat itu dilahapnya tanpa sisa!
Dari semua itu, ilmu kalam (teologi) jadi favoritnya. Saking dalamnya, beliau jadi master debat yang jago menangkis serangan doktrin Khawarij yang ekstrem. Ini seperti jagoan boxing yang selalu siap counter-attack setiap argumen lawan!
Setelah puas berenang di lautan teologi, beliau pindah fokus ke fikih di Kufah. Kufah saat itu adalah pusat gravitasi para ulama fikih rasional, dengan Madrasah Kufah yang dipimpin oleh Hammad bin Sulaiman. Nah, dari Hammad inilah Abu Hanifah belajar selama 18 tahun! Itu bukan waktu sebentar, lho. Hampir dua dekade nyantri bareng guru yang sama. Ini pasti murid paling betah di kelas! Setelah Hammad wafat, dewan madrasah Kufah pun sepakat bulat menunjuk Abu Hanifah jadi kepala madrasah. Wah, langsung naik pangkat jadi “Dekan Fikih” nih! Dari sinilah, ilmunya jadi fondasi Mazhab Hanafi yang kita kenal sekarang.
Kufah di masa itu memang kota super ramai dan multikultural. Filsafat Yunani, Persia, perdebatan Kristen, Syiah, Khawarij, semua ada di sana. Pokoknya, Kufah itu melting pot ideologi! Abu Hanifah sendiri fokus di fikih, tapi jangan salah, beliau juga jago tajwid, bahasa Arab, kaligrafi, dan ilmu kalam. Intinya, beliau ini paket komplit ulama!
Imam Abu Hanifah ini murid rajin yang nggak puas belajar di satu tempat. Setelah Kufah dan Basra, beliau touring ke Mekah dan Madinah, center-nya ilmu Islam. Di sana, beliau jadi santri dari ulama-ulama legend, bahkan sempat bertemu tujuh Sahabat Nabi yang masih hidup! Bayangkan, itu seperti ketemu langsung sama founding fathers Republik ini!
Gurunya bejibun, kebanyakan dari Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Termasuk Imam Hamdan bin Abu Sulaiman yang jadi gurunya selama 18 tahun (paling lama!), Imam Atha’ bin Abi Rabah, Imam Nafi’, dan banyak lagi. Muridnya? Ini yang bikin nganga! Jumlahnya banyak banget, dan rata-rata jadi bintang lapangan semua! Yang paling terkenal, Imam Syafi’i sendiri adalah murid beliau! Ini seperti Lionel Messi belajar dari Diego Maradona! Ibnu Abdil Bar sampai bilang, “Cukuplah kemuliaan bagi asy-Syafi’i bahwa gurunya adalah Imam Malik, dan cukuplah kemuliaan bagi Malik bahwa di antara muridnya adalah asy-Syafi’i.” Mereka ini dua legenda yang saling melengkapi!
Faktor-faktor yang bikin Imam Abu Hanifah mencapai level dewa dalam ilmu itu ibarat resep rahasia yang sempurna:
Imam Abu Hanifah memang nggak terlalu banyak nulis buku sendiri (mungkin karena terlalu sibuk mikir dan ngajar, atau sibuk nyari tinta!), tapi ide-ide brilian-nya banyak dikumpulkan oleh murid-muridnya. Karya yang beliau tulis sendiri itu kayak al-Fara’id (khusus warisan, full rumus), asy-Syurut (tentang perjanjian, biar nggak ada yang bisa ngeles), dan yang paling terkenal al-Fiqh al-Akbar (tentang teologi, ini kayak starter pack ilmu kalam).
Nah, yang bikin beliau jadi legenda adalah metode istinbath hukumnya. Beliau dikenal sebagai Ulama al-Ra’yi, alias “Si Jagoan Rasional”! Kalau Al-Qur’an dan Sunah nggak ada hukum yang qath’iy (jelas dan pasti), beliau pakai akalnya yang luar biasa. Ini seperti detektif ulung, kalau bukti fisik kurang, dia akan pakai logika dan analogi terbaiknya. Urutan metode istinbath-nya kayak gini: Al-Qur’an, Al-Sunnah, Fatwa Sahabat, Qiyas (analogi, ini jurus signature-nya!), Istihsan (mencari yang paling baik, jurus pamungkas kalau Qiyas mentok!), Ijma’, dan terakhir, ‘Urf (adat istiadat yang berlaku).
Metode ini bikin beliau beda dan sempat jadi kontroversi (tapi kontroversi positif, ya!). Ada yang saking kagumnya sampai mikir beliau dapat ilham langsung dari Nabi lewat mimpi, tapi ada juga yang saking nggak setujunya sampai nuduh beliau sesat (karena pemikirannya terlalu nyeleneh di mata mereka). Tapi justru perbedaan pendapat ekstrem ini yang menunjukkan betapa revolusionernya beliau di zamannya. Beliau belajar pakai akal sepenuhnya, dan nggak peduli omongan orang lain. “Pokoknya ini yang benar!” gitu mungkin kata beliau dalam hati.
Sayangnya, akhir kisah sang Imam ini agak tragis. Beliau wafat di penjara pada usia 70 tahun, tepatnya bulan Rajab 150 Hijriah. Sebuah akhir yang menyedihkan, tapi juga bukti keteguhan beliau pada prinsipnya. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk ilmu dan umat. Wallahua’lam!