Imam Malik: Sang Superstar Hadis dari Madinah, Bikin Zaman Itu Gempar!

Dikisahkanlah di tanah Madinah nan bercahaya, lahirlah seorang bayi mungil di tahun 93 Hijriah (atau 94, 95, bahkan 90 H — maklum, dulu bidan belum pakai sistem barcode, jadi tanggal lahirnya agak fleksibel dikit). Namanya bejibun kerennya: Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amr, al-Imam, Abu ‘Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani! Coba bayangkan kartu nama beliau, pasti font-nya harus yang paling kecil saking panjangnya gelar. Tapi dari semua gelar itu, yang paling hits adalah Imam Malik, sang pakar fikih dan hadis yang kelak jadi pendiri Mazhab Maliki!

Bayangkan, di era itu, kalau ada kompetisi “Siapa Paling Tahu Hadis di Madinah”, Imam Malik ini juara umum, juara favorit, juara segala juara! Saking dahsyatnya ilmunya, sampai-sampai para ulama sezaman geleng-geleng kepala. Ada yang bilang, “Imam Malik itu Hujjatullah (hujahnya Allah) setelah para Tabi’in!” Lalu ada lagi yang nyeletuk, “Dia itu Amirul Mukminin dalam (ilmu) Hadis!” Wah, kalau sekarang mungkin setara dengan influencer paling diikuti se-jagad raya medsos, tapi dengan pengikut jutaan follower di dunia nyata! Bahkan Imam Syafi’i (yang ilmunya juga njomplang) sampai bilang, “Aku mendengar dari orang yang lebih tua dan berilmu dari aku, mereka mengatakan kami tidak menemukan orang yang (alim) seperti Malik, maka bagaimana kami (orang sekarang) menemui yang seperti Malik?!” Ini seperti junior yang minder di depan senior legendaris, “Ya ampun, ketemu beliau aja udah gemeteran, apalagi nyamain!”

Kitab Al-Muwaththa’: Proyek Maha Karya Anti-Kaleng-Kaleng 40 Tahun!

Nah, ini dia bagian paling epik dari kisah Imam Malik: Kitab fenomenal beliau, Al-Muwaththa’! Konon, untuk menyusun kitab ini, beliau butuh waktu 40 TAHUN! Empat puluh tahun, ferguso! Itu bukan waktu sebentar. Kalau sekarang, 40 tahun itu udah bisa bangun bisnis dari nol, nikah, punya anak cucu, dan mungkin udah pensiun dini dari pekerjaan! Selama 40 tahun itu, beliau bolak-balik nanya ke 70 ahli fikih Madinah! Bisa dibayangkan betapa sabarnya beliau, mungkin saking seringnya bolak-balik, para ahli fikih itu sampai hapal aroma parfumnya Imam Malik. “Ah, ini pasti Imam Malik lagi, mau nanya hadis apa lagi ya?”

Awalnya, kitab ini menghimpun 100.000 hadis. Seratus ribu! Otak beliau itu isinya apa ya? Harddisk terabyte kali, ya. Tapi saking ketatnya standar beliau dalam menyeleksi, dari 100.000 itu, cuma 10.000 yang diakui sah. Dan dari 10.000 itu, setelah diteliti lagi dan dibandingkan dengan Al-Qur’an, yang akhirnya disahkan sahih cuma 5.000 hadis! Ini seperti seleksi karyawan paling ketat di dunia, 95% langsung auto-tereliminasi! Benar-benar seleksi alam tingkat tinggi! Beliau dikenal tegas banget soal hadis, jadi jangan coba-coba bawa hadis hoax di depan beliau, bisa-bisa langsung kena (skakmat) tanpa ampun!

Saking luar biasanya kitab ini, sampai-sampai Ibn Hazm bilang, “Al-Muwaththa’ adalah kitab tentang fikih dan hadis, aku belum mengetahui bandingannya.” Ini pujian level dewa! Sumber-sumber hadis pun sampai menyebutnya sebagai salah satu dari tujuh kitab hadis paling utama, bersanding dengan Al-Kutub as-Sittah. Jadi, kalau Anda punya Al-Muwaththa’ di rumah, jangan anggap remeh, itu karya legendaris hasil jerih payah puluhan tahun seorang jenius!

Dari Guru Legendaris Hingga Murid-Murid Bintang Lapangan

Imam Malik ini punya guru bejibun, sampai 900 orang! Bayangkan list kontak beliau, pasti isinya para guru semua. Dari golongan Tabi’in ada 300, dari Tabi’in Tabi’in ada 600. Gurunya itu mulai dari Nu’main al-Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, sampai az-Zuhry. Pokoknya, kalau beliau kumpul dengan guru-gurunya, itu seperti Avengers versi ulama!

Muridnya? Jangan ditanya! Jumlahnya tak terhingga, bintang lapangan semua! Ada yang lebih tua dari beliau (wah, kok guru jadi murid?), seperti az-Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya tapi tetap nunduk belajar, seperti al-Auza’i dan Sufyan ats-Tsauri. Dan yang paling bikin geger, ada Imam Syafi’i! Yup, sang pendiri Mazhab Syafi’i itu adalah murid kesayangan Imam Malik. Ini seperti Messi belajar dari Maradona, tapi dua-duanya sama-sama legenda! Ibnu Abdil Bar sampai bilang, “Cukuplah kemuliaan bagi asy-Syafi’i bahwa syaikhnya adalah Imam Malik, dan cukuplah kemuliaan bagi Malik bahwa di antara muridnya adalah asy-Syafi’i.” Mereka ini duo maut yang ilmunya bikin kepala muter tujuh keliling!

Akhir Hayat Sang Imam: Wafat Diam-Diam, Bikin Satu Negeri Berduka

Menjelang wafat, ada drama kecil yang bikin hati terenyuh. Imam Malik ditanya kenapa tujuh tahun terakhir tidak lagi ke Masjid Nabawi. Pasti orang-orang bertanya-tanya, jangan-jangan beliau lagi ngambek atau sibuk main game baru? Eh, ternyata jawabannya bikin terharu: “Seandainya bukan karena akhir dari kehidupan saya di dunia, dan awal kehidupan di akhirat, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada kalian. Yang menghalangiku untuk melakukan semua itu adalah penyakit sering buang air kecil, karena sebab ini aku tak sanggup untuk mendatangi Masjid Rasulullah. Dan, aku tak suka menyebutkan penyakitku, karena khawatir aku akan selalu mengadu kepada Allah.” Ya ampun, saking tawakal dan tidak mau mengeluhnya, sakit pun disembunyikan. Ibaratnya, kalau sekarang, beliau ini sakit flu tapi bilangnya “lagi kurang enak badan aja”, padahal udah demam tinggi! Sungguh jiwa yang mulia!

Imam Malik akhirnya wafat pada hari Minggu, 10 Rabi’ul Awwal 179 Hijriah (800 Masehi) setelah sakit 22 hari. Seluruh Madinah berduka. Gubernur Madinah, Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Hasyimi, yang biasanya naik kuda ke mana-mana, kali ini jalan kaki ikut menggotong jenazah beliau hingga ke pemakaman Baqi’. Itu artinya beliau adalah tokoh yang sangat dihormati, sampai-sampai pejabat nomor satu pun ikut “gotong royong” mengantar kepergiannya.

Informasi kematian beliau menyebar ke seluruh negeri Islam secepat kilat (mungkin zaman itu secepat merpati pos atau broadcast WA grup). Semua orang sedih, merasa kehilangan, dan mendoakan beliau dengan tulus. Karena ilmu dan amalnya, beliau bukan hanya meninggalkan warisan berupa kitab-kitab tebal, tapi juga inspirasi tak terhingga yang membuat hati kita tersenyum haru sekaligus takjub akan kebesaran beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan pahala berlipat ganda kepada Imam Malik! Aamiin!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *