Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Alamat:
Asrama At-Tawakal, Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Singaparna, Kab. Tasikmalaya
Bayangkan seorang petani yang menanam padi, tapi setiap hari hanya sibuk mengecat batangnya agar terlihat hijau, tanpa peduli apakah akarnya hidup atau mati. Begitu pula banyak institusi pendidikan Islam hari ini—ramai mengecat gedung, mengangkat jargon “berbasis akhlak dan Qur’ani”, tetapi akarnya kadang kering: nilai spiritual tergeser, visi ilahiyah makin kabur. Pendidikan kita tampak Islami dari luar, tapi dalamnya tak lagi memancarkan ruh tauhid. Maka pertanyaan penting pun muncul: Apakah kita sedang mencetak mukmin yang berilmu atau hanya manajer berpeci dan sarung?
Tantangan pertama yang mencolok adalah kurikulum yang terlalu meniru model Barat. Dalam banyak lembaga Islam, kurikulum lebih mengagungkan “ranking” dan “nilai ujian” dibandingkan tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa. Tak heran, kita melihat siswa bisa menjawab soal IPA dengan tepat tapi tidak tahu bagaimana bersikap sabar saat menghadapi perbedaan. Ibarat bangunan indah tapi tanpa pondasi, pendidikan semacam ini hanya kuat di permukaan, namun rapuh ketika diterpa badai hidup. Apakah kita sedang melahirkan pelajar saleh atau sekadar konsumen buku cetak?
Padahal Islam mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, tapi cahaya yang menuntun. Sayangnya, banyak sekolah dan pesantren terjebak pada rutinitas hafalan tanpa pemahaman, formalitas tanpa refleksi. Anak-anak disuruh menghafal Al-Qur’an, tapi tak pernah diajak menatap kehidupan dengan ayat. Mereka tahu hukum fiqih, tapi tak peka pada tetangga yang kelaparan. Hafalan boleh jadi penuh, tapi hatinya kosong. Tidakkah ini seperti kaset yang bisa memutar lagu indah, tapi tak pernah tahu maknanya?
Tamtsil lain: pendidikan Islam kita kadang seperti toko buku mahal, dengan rak penuh kitab klasik dan modern, tapi pengunjungnya hanya tertarik foto di depan rak, bukan membaca isinya. Banyak institusi lebih fokus pada akreditasi, sertifikasi, dan liputan media. Anak didik dipoles untuk tampil baik di lomba, bukan untuk hidup baik di dunia nyata. Maka muncullah lulusan yang berprestasi dalam kompetisi, tapi gugup menghadapi kehidupan. Apakah ini tanda keberhasilan pendidikan atau kegagalan yang dirias?
Tantangan epistemologis menjadi hal krusial. Kita hidup di era tsunami informasi, tapi miskin kebijaksanaan. Banyak yang bisa Googling cepat, tapi sulit menalar kritis. Maka pendidikan Islam perlu revolusi epistemologis: kembali ke akar tauhid, namun tidak meninggalkan nalar kritis. Ilmu tak cukup ditelan mentah, tapi perlu dikunyah pelan. Rasulullah ﷺ tak pernah mencetak hafiz-hafiz yang tak berpikir, tapi membentuk manusia yang menghubungkan langit dan bumi dalam satu napas iman. Tidakkah saatnya kita berhenti hanya membentuk memori, dan mulai menumbuhkan makna?
Tauhid adalah poros pendidikan Islam, bukan hanya sebagai teori, tapi sebagai cara memandang hidup. Namun kini, tauhid lebih sering diajarkan sebagai pelajaran di RPP, bukan sebagai napas dalam berpikir. Anak tahu nama-nama Allah, tapi tidak merasakan kehadiran-Nya saat membuka buku. Guru mengajar bab ketauhidan, tapi tak terlihat takut saat berlaku curang di laporan nilai. Ironis, bukan? Apakah tauhid kita hanya jadi tema lomba pidato, atau masih bisa hidup di keseharian?
Nalar kritis, dalam tradisi Islam klasik, tidak pernah dimusuhi. Ulama-ulama besar seperti Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan Fakhruddin Ar-Razi mengolah ilmu dengan pikiran tajam yang berakar pada iman mendalam. Tapi hari ini, berpikir kritis sering dianggap membangkang. Santri yang bertanya dianggap kurang sopan. Padahal bukankah Al-Qur’an sendiri penuh dengan pertanyaan retoris sebagai metode berpikir? Mengapa kita takut pada nalar kritis? Apakah kita takut karena argumentasi kita tidak cukup kuat, atau karena kita tak cukup terbuka?
Mari kita lihat realita: banyak lulusan pesantren atau sekolah Islam kini gagap menghadapi dunia digital. Mereka pandai membaca teks klasik, tapi bingung membedakan hoaks dari informasi. Mereka bisa menjelaskan sanad hadis, tapi tak tahu etika bermedsos. Pendidikan kita gagal mengintegrasikan warisan ulama dengan tantangan zaman. Bukankah seharusnya pendidikan Islam melahirkan generasi yang bisa menjadi jembatan, bukan justru tenggelam dalam nostalgia masa lalu?
Lebih parah lagi, sebagian pendidikan Islam hanya menempelkan label syariah atau islami untuk menjual identitas, tapi tidak benar-benar membentuk karakter Islami. Seragam boleh panjang, logo boleh Arab, tapi praktiknya kapitalis dan kompetitif tanpa ruh ukhuwah. Sekolah Islam bersaing keras menjaring murid seperti toko rebut pelanggan. Di mana letak etika ukhuwah? Di mana ruh dakwah? Apakah ini pendidikan Islam, atau bisnis bertopeng agama?
Sebagian guru dan pengelola pendidikan pun kelelahan—bukan karena mendidik, tapi karena sibuk mengurusi laporan, absen, dan dokumen. Energi habis di administrasi, bukan di pembinaan jiwa. Guru dituntut profesional, tapi jarang diberi ruang untuk menjadi murabbi (pendidik hati). Siswa dituntut aktif, tapi tak diberi ruang untuk kontemplatif. Apakah sistem pendidikan kita benar-benar berpihak pada proses pembentukan manusia, atau hanya pada angka-angka di rapor?
Lalu bagaimana solusinya? Kembali ke akar: pendidikan sebagai ibadah dan amanah. Membangun kurikulum yang tidak hanya mendidik otak, tapi juga ruhani. Menyusun pembelajaran yang tak hanya mengejar materi, tapi menumbuhkan adab. Menghidupkan kembali halaqah, mudzakarah, dan munazharah—bukan sekadar KBM yang membosankan. Pendidikan Islam harus mampu menghidupkan kembali tradisi berpikir dan berdialog yang mendalam. Jika tidak, maka kita akan terus mencetak generasi “robot Islami” yang hanya bisa mengulang, tapi tak pernah meresapi.
Bayangkan jika pesantren dan sekolah Islam menjadi ruang di mana pertanyaan besar boleh diajukan, di mana diskusi mendalam tentang Tuhan, sains, sosial, dan akhlak menjadi santapan harian. Di mana para murid tidak takut keliru, tapi justru tumbuh karena didampingi. Di mana guru bukan polisi nilai, tapi pembimbing makna. Bukankah itu cita-cita pendidikan Islam sejati—membentuk insan yang bukan hanya pintar menjawab soal, tapi juga bijak menjawab kehidupan?
Akhirnya, kita harus bertanya dengan jujur dan tajam: Apakah pendidikan Islam hari ini masih mendidik manusia yang siap hidup dan siap mati? Atau hanya mencetak lulusan yang siap bekerja, tapi tak siap bermakna? Jika pendidikan kita tak lagi mampu menanamkan tauhid yang menghidupkan, membangkitkan nalar kritis yang tercerahkan, dan menumbuhkan akhlak yang meneduhkan, maka kita tidak sedang membina peradaban—kita hanya sedang membangun gedung-gedung sunyi, penuh hafalan, tapi kosong dari kehidupan.